Bagaimana SPI Memberikan Nilai Tambah bagi Perusahaan

Bagaimana SPI Memberikan Nilai Tambah bagi Perusahaan

Bagaimana SPI Memberikan Nilai Tambah bagi Perusahaan

Dalam menjalankan bisnis atau usahanya, sebuah organisasi memerlukan adanya audit internal yang membantu dalam mencapai tujuan organisasi tersebut. Audit internal ini biasa dikenal dengan istilah Satuan Pengendalian Internal (SPI). Menurut Sawyer (2009), audit internal adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah:

  1. Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan
  2. Risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan dimminimalisasi
  3. Peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima telah diikuti
  4. Kriteria operasi yang memuaskan telah terpenuhi
  5. Sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis
  6. Tujuan organisasi telah dicapai secara efektif

Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi dalam menjelaskan tanggungjawabnya secara efektif.

Tujuan audit internal sendiri yaitu untuk membantu pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya. Sehingga dengan adanya peran audit internal dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan yaitu mempercepat proses pencapaian tujuan perusahaan (ultimate goal). Nilai tambah tersebut dapat diciptakan baik dalam tahap proses audit, hasil akhir pemeriksaan maupun perannya dalam menjalankan pengendaliam dalam sebuah organisasi. SPI dapat memberikan nilai tambah dalam tiga bentuk yaitu peran, proses audit dan laporan audit.

  1. Peran

Peran disini yaitu dapat menciptakan budaya pengendalian dalam organisasi sehingga menyadarkan seluruh anggota organisasi untuk senantiasa compliance, mengusahakan efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaan kegiatan karena kegiatannya akan dievaluasi oleh SPI. Karakter compliance, bekerja dengan efisien, efektif, disiplin dan menjunjung etika menjadi prasyarat dasar seorang internal auditor. Pihak yang diperiksa harus lebih compliance dan lebih baik dari pihak yang diperiksa. Kodisi ini akan menciptakan pribadi-pribadi yang terus melakukan continous improvement, sehingga dari unit internal audit akan muncul insan yang mampu menjadi teladan dalam bekerja. Oleh karena itu, organisasi SPI harus mampu menjadi contoh atau role model dalam mengelola organisasi baik dari sisi compliance, governance, pengelolaan organisasi yang efisien dan efektif serta kemampuannya dalam merumuskan strategic goal yang sejala dengan tujuan organisasi. Peran SPI membutuhkan insan-insan yang terus menerus belajar dan mengikuti perkembanngan perusahaan dan lingkungannya agar mampu memahami perasalahan di lapangan saat melakukan pemeriksaan.

  1. Prosedur Audit

Proses audit dilakukan harus dengan semangat perbaikan bukan sekedar mencari kesalahan. Dalam memberikan perbaikan pun, harus integratif bukan sekedar menyalahkan, yaitu dengan cara mendengarkan penjelasan auditee dan alasan-alasannya, karena bisa saja alasannya tersebut menjadi akar permasalahan. Ketika SPI fokus pada akar masalah, dapat memberikan solusi yang integratif karena seringkali masasahnya bukan pada kesalahan terebut namun justru penyebab dari suatu kesalahan atau penyimpangan. Misalkan, masalah pencurian informasi data perusahaan, yang dipermasalahkan bukan sekedar menemukan dampak kerugian bagi perusahaan namun dapat menganalisis secara komprehensif baik dari sisi kelemahan internal kontrol perusahaan, aspek kelemahan regulasi, penegakan hukum dan aspek sosiologi mengapa pencurian tersebut dapat terjadi. Sehingga SPI harus mampu menjadikan proses audit sebagai media untuk berdialog dan memberikan konsultasi kepada auditee tentang apa yang seharusnya dilakukan, memberikan sasran atas kesalaham yang terjadi.

  1. Laporan Audit

Laporan  internal audit harus diomunikasikan dengan baik dengan auditee tanpa mengurangi independen dan obyektifitas internal audit. laporan internal audit harus bersifat integratif dalam menguraikan permasalahan. Seringkali masalah dalam satu unit disebabkan oleh permasalahan/ kesalahan pada unit lain, kesalahan regulasi dan lain-lain. Solusi yang diberikan oleh SPI harus bersifat menyeluruh. Jika solusi tersebut harus diselesaikan pada unit organisasi yang lebih tinggi karena terkait hubungan antar unit, harus dibahas dan diselesaikan pada unit organisasi yang lebih tinggi. Komunikasi dengan direksi dan ketua komite audit menjadi penting untuk menindaklanjuti permasalahan strategis yang berdampak signifikan pada keseluruhan organisasi. Dengan komunikasi juga dapat mengurangi hasil audit sekedar menjadi tumpukan dokumen dan mampu menghasilkan hasil audit yang lebih baik.

 

Sumber: Urton L. Anderson., Michael J. Head., Sridhar Ramamoorti., Cris Riddle., Mark Salamasick., P. J. S. (2017). Internal Auditing Assurance & Advisory Service (4th Edition ed.). In : The Internal Audit Foundation.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *