KEBERLANJUTAN PENDIDIKAN DI TENGAH COVID-19
KEBERLANJUTAN PENDIDIKAN DI TENGAH COVID-19

KEBERLANJUTAN PENDIDIKAN DI TENGAH COVID-19

Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd mengatakan adanya perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada masa pandemi mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi yang berbeda.

“Studi menemukan bahwa pembelajaran di kelas menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan dengan PJJ. Kekerasan pada anak pun kerap terjadi selama PJJ, baik kekerasan di rumah tanpa terdeteksi oleh guru maupun cyberbullying. Belum lagi risiko eksternal terjadi ketika anak tidak lagi datang ke sekolah. Terdapat peningkatan resiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan dan kehamilan remaja,” papar Sri Wahyuningsih.

Hal itu ia sampaikan dalam webinar strategi pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi, Selasa, 5 Oktober 2021. Webinar ini dapat disaksikan juga di channel Youtube Direktorat Sekolah Dasar.

Sri Wahyuningsih melanjutkan, pandemi Covid-19 berdampak kurang baik terhadap pendidikan anak-anak. Berdasarkan hasil survei INOVASI dan Puslitjak Kemendikbudriatek, pertama, terjadi penurunan 0,44 – 0,47 standar deviasi (senilai 5-6 bulan pembelajaran) per tahun.

Kedua, antara 0,8-1,3 tahun compounded-learning-loss dengan gap antara siswa miskin dan kaya meningkat menjadi 10%, menurut analisa Bank Dunia. Ketiga, tingkat putus sekolah sebanyak 1,12% dengan perbedaan antara barat dan timur yang signifikan. Dan angka ini 10 kali lipat dari angka putus sekolah di jenjang SD tahun 2019. Anak putus sekolah didominasi dari keluarga tidak mampu secara ekonomi.

Virus Corona atau Corona Virus Disease (Covid-19) telah memberikan dampak di berbagai bidang di tanah air, termasuknya bidang pendidikan. Sejak pertengahan bulan Maret 2020 lalu, dunia pendidikan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara jarak jauh, tanpa tatap muka di ruang kelas sebagaimana biasanya. Melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020, Menteri Pendidikan secara tegas memberikan arahan berkaitan dengan hal ini.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini dilaksanakan sebagai upaya pendegahan penyebaran covid-19 di bidang pendidikan dimana usia anak-anak merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penyakit. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka belum bisa melakukan penjagaan diri terhadap lingkungan. Atas dasar menjaga anak-anak ini, pendidikan dilaksanakan secara daring yang dipandu oleh guru melalui sarana online.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini memiliki banyak kendala, baik yang dialami oleh guru, siswa, ataupun orang tua yang mendampingi siswa untuk belajar di rumah. Dalam sebuah penelitian yang pernah penulis lakukan, ada 40% orang tua mengaku kesulitan dalam menkondisikan anak-anaknya untuk belajar di rumah.

Selanjutnya ada 30% orang tua terkendala waktu untuk mendampingi anaknya belajar. Dari mereka ada yang yang sibuk bekerja dan ada juga yang tidak bisa membagi waktu karena semua anaknya ada tugas belajar di rumah. Kendala selanjutnya adalah ada 17% orang tua yang kesulitan dalam memahami materi pelajaran dan kesulitan dalam memberikan penjelasan materi kepada anaknya. Selain tiga macam kendala di atas, beberapa kendala lainnya adalah karena ada lingkungan yang kurang mendukung, sumber daya yang kurang mendukung, dan ada orang tua yang kurang sabar dalam mendampingi anak-anaknya.

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Setyorini, disebutkan ada beberapa problematika yang dialami oleh peserta didik, guru, serta orang tua dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh ini, yaitu penguasaan teknologi masih kurang, adanya penambahan biaya kuota internet, adanya pekerjan tambahan untuk orang tua dalam mendampingi anak-anaknya belajar, komunikasi dan sosialisasi antar siswa yang menurun, guru dan orang tua menjadi berkurang interaksinya dan jam kerja yang menjadi tidak terbatas bagi guru (Setyorini, 2020).

Meskipun mengalami banyak kendala, namun kegiatan pembelajaran tidak boleh berhenti karena sekolah harus berorientasi pada global relevant need atau kebutuhan global yang relevan (Bahri & Arafah, 2020). Olah karenanya, diperlukan guru yang handal, strategi yang tepat, dan kerja sama kuat antara sekolah dan orang tua untuk menjawab tantangan pendidikan di tengah pandemi covid-19 ini.

 

Selain berkenaan dengan problematika teknis di lapangan, pembelajaran daring juga menyisakan problematika di tingkat kebijakan. Meskipun saat ini Indonesia menempari peringkat ke-8 dalam pertumbuhan pemanfaatan pembelajaran secara daring di tingkat global, namun masih terdapat hal yang harus diperbaiki terutama soal infrastruktur dalam penyediaan acces point di daerah terluar, terdepan, dan daerah terisolir (Pangondian, 2019).

Saat ini, pemerintah sudah mulai mencanangkan era new normal, dimana ini merupakan era ketidakpastian, baik dalam kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, dan termasuknya juga di bidang pendidikan (Kariem, 2020). Era new normal ini merupakan langkah yang diambil oleh pemerintah dengan tetap memperhatikan resiko yang muncull sebagai dampak dari kebijakan ini.

Berkenaan dengan dunia pendidikan, saat ini sudah ada beberapa daerah yang melakukan uji coba pelaksanaan sekolah secara tatap muka. Bahkan sudah ada beberapa sekolah yang juga sudah melakukan pembelajaran sebagaimana biasanya namun tetap dengan protokol kesehatan. Langkah ini diambil sebagai upaya adaptasi masyarakat di tengah pandemi yang disebabkan Covid-19 ini.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka mendapat respon beragam dari para orang tua siswa. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Apalagi banyak diberitakan di media tentang munculnya klaster pendidikan. Selain itu, semakin bertambahnya kasus yang terkonfirmasi positif terpapar covid-19 semakin membuat masyarakat berpikir kembali untuk mengijinkan putra-putrinya melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Dari dua arah pertimbangan di atas, rencana pelaksanaan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi ini dilematis. Di satu sisi orang tua berharap anaknya bisa berangkat sekolah karena ada banyak masalah atau kendala dalam pembelajaran online, guru juga ingin mengajar peserta didiknya secara langsung agar bisa maksimal, dan anak-anak sudah mulai jenuh belajar dari rumah. Namun, di satu sisi Covid-19 ini masih menghantui para orang tua karena khawatir akan kesehatan anak-anaknya.

sumber: https://iprahumas.id/detailpost/pembelajaran-tatap-muka-solusi-keberlanjutan-pendidikan-di-tengah-covid-19

https://covid19.go.id/p/berita/pembelajaran-tatap-muka-terbatas-mengutamakan-keselamatan-seluruh-insan-pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.