Pelaksanaan Surprise Audit
Pelaksanaan Surprise Audit

Pelaksanaan Surprise Audit

Dalam bidang Audit, Surprise Audit adalah proses audit yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa memberikan pemberitahuan kepada obyek audit bahwa akan diadakan audit. Sasaran dari Surprise audit adalah setiap sektor yang rawan terjadi fraud. Setidaknya ada tiga obyek yang dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan surprise audit karena tingkat kerawanan risiko fraud itu sendiri, Yaitu : 1) Transparansi Sistem Sistem kerja yang tidak transparan (terbuka) merupakan peluang emas bagi pelaku kecurangan. Keterbatasan akses dari luar unit akan membatasi pengawasan dan pemberian masukan terhadap unit bersangkutan membuat pelaku lebih leluasa dalam memanipulasi sistem. Karena itu biasanya pelaku kecurangan tidak lain adalah “orang dalam” atau setidaknya melibatkan orang yang memiliki otoritas atas akses sistem tersebut. Pelaku kecurangan sering menjadikan unit kerja yang “basah” sebagai sasarannya. Di antara unit kerja tersebut adalah :

  1. a) Pembelian barang atau jasa.
  2. b) Pengeluaran kas dan biaya rutin.
  3. c) Pengeluaran berbasis proyek/event.
  4. d) Penagihan kewajiban dari pelanggan, khususnya yang kurang lancar (bermasalah atau bed debt).
  5. e) Pengeluaran aset fisik (inventory atau aset fisik)

2) Konsentrasi Aset dan Biaya

Berbeda dengan unit sebelumnya, pada unit Aset dan Biaya para pelaku sudah menargetkan terlebih dahulu sebelum beraksi. Satu-satunya alasan yang menjadikan unit ini rentan terhadap kecurangan adalah karena jumlah nilainya yang besar. Jumlah aset yang relatif banyak memberikan kemudahan dalam melakukan kecurangan tanpa segera diketahui. Misalnya barang inventory, aset tetap tertentu (kursi kerja, brankas, dsb), dan persediaan kantor tertentu (buku, telepon, kertas). Alokasi anggaran yang relatif besar membuka peluang untuk melakukan manipulasi (mark up) biaya. Misalnya anggaran terkait proyek. Nilai barang yang relatif tinggi, yang bila berhasil memiliki dan menjualnya “di bawah harga pasar” tetap dapat memberikan keuntungan yang besar. Misalnya peralatan komputer dan peralatan laboratorium.

3) Integritas SDM dan Keseimbangan Organisasi

integritas SDM diuji saat dihadapkan pada kondisi terbukanya peluang dan adanya dorongan untuk melakukan kecurangan. Namun, factor pendorong tidak hanya dapat berasal dari dalam diri pelaku saja melainkan dari berbagai faktor eksternal. Diantaranya adalah lingkungan organisasi kerja. Faktor dorongan dari diri SDM dan lingkungan organisasi kerap menjadi pemicu yang saling melengkapi ketika seseorang melakukan kecurangan.

Menurut Sam Bowercraft dan david Hammarberg (2013)26, tujuan dari diadakannya surprise audit adalah :

  1. Untuk mengevaluasi tanpa memberikan pemberitahuan dari tinjauan/pemeriksaan sehingga persiapan tidak dapat dilakukan oleh auditee (sasaran audit)
  2. Untuk mengkonfirmasi kesiapan operasional sebenarnya dari area proses.
  3. Audit adalah strategi deteksi. d) kemungkinan audit merupakan strategi pencegahan.

Manfaat dari adanya surprise audit diantaranya adalah meningkatkan kesiapan pegawai. Karena audit ini diadakan secara mendadak, maka setiap pegawai harus siap setiap saat untuk menghadapi kemungkinan adanya pelaksanaan audit secara tiba-tiba. Selain itu praktik fraud lebih sering tertangkap basah melalui strategi surprise audit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.