022-2013163

saiauditor@upi.edu

Senin-Jumat 8:00AM–3:30PM

Akuntansi sebagai mitos

Akuntansi sebagai mitos

Akuntansi mungkin dapat dipandang sebagai mitos (mythology) atau ritual simbolis. Akuntansi menciptakan mitos yang merupakan cara mudah memahami dunia ekonomi dan menjelaskan fenomena kompleks. Melalui akuntasi, suatu fenomena ekonomi kompleks diterjemahkan bagi para pengguna dengan cara yang lebih mudah dan dapat dimengerti, sehingga menciptakan lebih banyak mitos daripada kenyataan. Sebagai akibatnya, pengumpulan informasi akuntansi menjadi suatu ritual yang diharapkan dan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa  telah dibuat pilihan-pilihan yang cerdas dan bahwa terdapat suatu komitmen untuk melakukan penerapan secara sistematis dari informasi akuntansi terhadap keputusan-keputusan. Suatu penggunaan informasi akuntansi secara simbolis menjadi sebuah perilaku manajerial yang tepat. Seperti yang dinyatakan oleh Martha Feldman dan James March:

Pengumpulan informasi menyediakan suatu jaminan yang bersifat ritual bahwa telah dilakukan sikap yang benar dalam pengambilan keputusan. Dengan skenario kinerja tersebut, informasi tidak hanya menjadi sekedar dasar untuk tindakan. Informasi adalah suatu penyajian kompetensi dan pengukuhan dari nilai sosial. Perintah dari informasi dan sumber informasi meningkatkan kompetensi dan menginspirasikan keyakinan. Kepercayaan bahwa informasi yang lebih banyak akan menunjukkan keputusan yang lebih baikmenimbulkan suatu keyakinan bahwa memiliki informasi itu sendiri, adalah baik dan bahwa seseorang atau organisasi dengan lebih banyak informasi adalah lebih baik jika dibandingkan dengan seseorang atau organisasi dengan sedikit informasi. Jadi pengumpulan dan penggunaan informasi dalam organisai merupakan bagian kinerja dari seorang pengambil keputusan atau suatu organisasi yang sedang mencoba membuat keputusan yang cerdas dalam suatu situasi di mana verifikasi dari kecerdasan sangatlah  prosedural dan normatif. Seorang pengambil keputusan yang baik adalah seseorang yang membuat keputusan dengan cara seperti yang dilakukan oleh seorang pengambil keputusan yang baik, dan para pengambil keputusan dan organisasi membakukan legitimasi mereka dengan penggunaan informasi mereka.

Beberapa penulis telah melihat terlalu jauh dengan mengklaim bahwa mereka melihat akuntansi sebagai saran utama bagi praktik-praktik sihir.seperti ilmu sihir, akuntansi mencakup sistem nilai yang mengatur tingkah laku manusia dan menjelaskan kepada manusia ketika terjadi sesuatu yang salah atau benar. Pandangan ini sama dengan pandangan Graham Cleverly yang menyatakan bahwa seluruh rutinitas akuntansi dan anggaran adalah sejenis upacara keagamaan seperti tarian hujan. Atas pandangan dari kondisi akuntansi yang menyedihkan ini, telah muncul tuntutan-tuntutan untuk melakukan studi dan pemahaman atas gambaran dari akuntansi seperti ini.Trevor Gambling menyatakan:

Tidak diragukan bahwa kelompok masyarakat lain menggunakan alat yang lain untuk mendapatkan hasil akhir yang sama, sehingga suatu studi atas apa yang mungkin disebut “antropologi dari akuntan” akan memungkinkan kita untuk memahami peran yang dimainkan oleh akuntansi dalam masyarakat kita dan bahkan mungkin memberikan wawasan kepada cara-cara yang lebih tidak merugikan untuk meraihhasil yang sama. Sebagaimana adanya, akuntansi bukanlah masalah supranatural, tetapi terlihat seperti mempunyai aktivitas politik, walaupun ditulis dengan p dalam huruf kecil! Hal ini mungkin terlihat sebagai suatu kesimpulan yang aneh, terutama bagi para pembaca yang bukan akuntan profesional. Ada yang mungkin beranggapan bahwa akuntansi hanyalah masalah ketelitian analisis dan menyeimbangkan buku hingga ke sen terakhir. Memang benar, tetapi dipandang dari situasi seorang akuntan yang lebih senior,akuntansi adalah juga masalah tentangmenilai sejauh mana data dapat ditekan untuk mengakomodasi kompromi “politik” antarapara kolaborator perusahaan dan masih tetap dalam kondisi “benar dan wajar” . pendeknya akuntan adalah seseorang yang memungkinkan suatu masyarakat industri modern dengan demoralisasi nyata dapat berjalan dengan memastikan bahwa model dan datanya dapat dianggap sebagai suatu ”kebenaran”. Aurakekaguman dan sedikit kebencian yang dirasakan oleh non akuntan terhadap profesi yang menarik ini sangat dimengerti.

Demikian pula G.J.Haines, Jr., memandang informasi sebagai suatu penyajian kenyataan simbolis yang digunakan oleh setiap individu pengambil keputusan untuk sampai pada suatu keputusan ekonomi. Pada dasarnya, akuntansi mengubah data menjadi informasi melalui pengolahan dan permintaan data dengan simbol-simbol yang relevan bagi para pengambil keputusan. Akan tetapi, penyajian simbolis mungkin dapat menjadi suatu penyajian yang lengkap ataupun tidak lengkap dari selera dan keyakinan pengambil keputusan dengan konsekuensi berikut ini:

Jika penyajian lengkap, maka pengambilan keputusan telah dengan baik menuangkan seluruh persepsinya dan akan bersedia mendelegasikan masalah pilihannya ke model. Jika tidak lengkap, pengambilan keputusan tidak akan mau mendelegasikan pilihannya ke model, tetapi model tersebut mungkin masih berguna baginya untuk memprediksi perubahan dalam kegunaannya yang terjadi akibat berbagai alternatif yang ada. Suatu model yang tidak lengkap adalah tetap informasi berdasarkan definisi yang telah digunakan untuk esai ini, walaupun informasi tersebut bukanlah informasi yang sempurna, karena ia adalah suatu penyajian simbolis yang dapat digunakan oleh seorang individu sebagai bantuan bagi keputusan ekonomi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Pentingnya Analisis Jabatan Dalam Organisasi

Menurut Sastrohadiwiryo, 2002:127, bahwa Analisis jabatan terdiri atas dua kata, analisis dan jabatan. Analisis merupakan aktivitas berpikir untuk menjabarkan pokok persoalan menjadi bagian, komponen, atau unsur, serta kemungkinan keterkaitan fungsinya.

KLASTER PAJAK DALAM UU CIPTA KERJA

Dengan diterbitkannya UU Cipta Kerja, terdapat perubahan-perubahan, baik penambahan maupun pengurangan kebijakan dari berbagai bidang yang dirangkum dalam satu peraturan terpusat yaitu UU Nomor 11 Tahun 2020. Dari sekian perubahan

Manajemen Stratejik

Manajemen Strategik adalah apa yang dilakukan manajer untuk mengembangkan strategi organisasi. Manajemen strategik melibatkan semua fungsi manajemen dasar seperti perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, itulah mengapa manajemen strategik sangatlah penting.