022-2013163

saiauditor@upi.edu

Senin-Jumat 8:00AM–3:30PM

Kegagalan Audit

Kegagalan Audit

Auditor diharapkan dapat mendeteksi dan memperbaiki ataumengungkapkan penghilangan ataukesalahan saji informasi keuangan yang material. Ketika auditor gagal untuk memenuhi ekspektasi ini, maka kegagalan audit adalah hasil yang tidak dapat dielakan. Maka kemudian tingkat kualitas auditlah yang dapat menghindarkan terjadinya kegagalan audit. Kualitas audit (audit quality) didefinisikan sebagai probabilitas bahwa laporan keuangan tidak memuat penghilangan ataupun kesalahan penyajian yang material. Kualitas audit juga didefinisikan dari segi resiko audit, dengan jasa bermutu tinggi akan mencerminkan risiko audit yang lebih kecil. Risiko audit (audit risk) didefinisikan sebagai risiko bahwa “auditor kemungkinan dengan tanpa sepengetahuannya gagal untuk dengan tepat memodifikasi pendapatnya atas laporan keuangan yang memuat kesalahan penyajian yang material.

Namun kegagalan audit memang terjadi, dan sebagai konsekuensinya, akan membuat kantor akuntan publik berhadapan dengan litigasi yang merugikan dan hilangnya reputasi, belum termasuk keputusan yang diberikan oleh pengadilan dan penyelesaian diluar persidangan.kerugian yang dialami klien atau penggunalah yang mengarah terjadinya situasi ligitasi dan potensi pembayaran kepada penggugat. Ligitasi dapat digunakan sebagai suatu ukuran tidak langsung dari kualitas audit dengan menggunakan suatu hubungan terbalik-auditor dengan tingkat ligitasi yang relatif rendah (tinggi) berarti menawarkan kualitas audit yang lebih tinggi (lebih rendah). Hubungan ini diverifikasi oleh suatu studi yang mengindikasikan, seperti yang diharapkan, bahwa kantor akuntan publik diluar kelompok Delapan Besar sebagai suatu kelompok memiliki tingkat kejadian ligilitas yang lebih tinggi daripada Delpan Besar dan sekaligus mendukung kelompok Delapan Besar sebagai auditordengan kualitas yang berbeda.

Tetapi tidak semua ligitasi langsung berasal dari kegagalan audit. Di sebuah studi yang menguraikan peranan kegagalan bisnis dan kecurangan manajemen baik pada langkah hukum yang dilakukan melawan auditor maupun penyelesaiannya. Palmrosemenemukan bahwa (a) hampir dari setengah kasus-kasus yang melibatkan kegagalan audit melibatkan kegagalan bisnis atau klien dengan tingkatkesulitan keuangan yang parah, dan (b) kebanyakan tuntutan hukum yang melibatkan klien-klien yang bangkrut juga melibatkan kecurangan manajemen. Temuan ini menunjukkan kenyataan bahwa kegagalan bisnis dan kecuranganmanajemen memainkan peranan yang sangat penting dalam terjadinya kegagalan audit, yang meminta auditor untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab dalam pendeteksian kecurangan, karena ia dapat mempengaruhi kualitas audit, risiko audit, dan potensi terjadinya litigasi yang merugikan. Seperti yang dinyatakan oleh Connor:

Menentukan persyaratan untuk mengidentifikasi kondisi yang mendasari kecurangan dalam pelaporan sebagai suatu tujuan independen dari proses audit akan dapat membantu memperjelas tanggung jawab auditor dan meningkatkan kewaspadaan auditor akan tanggung jawab ini. Kinerja dari prosedur-prosedur peninjauan pengendalian dan evaluasi manajemen yang direkomendasikan serta evaluasi risiko kecurangan akan meningkatkan probabilitas dalam pendeteksian kondisi yang mengarah kepada laporan keuangan yang salah. Persyaratan akan fokus pada kondisi keuangan akan membantu untuk mengidentifikasikan secara lebih efektif entitas-entitas yang akan memenuhi kualifikasi sebagai calon-calon kegagalan bisnis dalam jangka pendek.

Meskipun kecurangan manajemen dan kegagalan bisnis dapat memainkan peranan yang penting dalam kegagalan audit, terdapat alasan-alasan lain dari kegagalan-kegagalan tersebut. Misalnya analisis yang diperluasoleh St. Pierre dan Anderson terhadap kegagalan-kegagalan audit yang didokumentasikan mengidentifikasi tiga alasan lain: (1) kesalahan yang berpusat pada interpretasi auditor atas prinsip-prisip akuntansi yang berlaku umum, (2) kesalahan yang berpusat pada interpretasi auditor atas standar audit yang berlaku umum atau implementasi dari standar audit yang berlaku umum dan (3) kesalahan yang berpusat pada kecurangan oleh auditor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Strategi Auditor untuk Mengatasi Proses Auditing Jarak Jauh Selama Covid-19

Di musim pendemic ini. Banyak perusahaan yang menjadikan pekerjaan menjadi pekerjaan dari rumah atau work from home. Tentu menjadi hal baru bukan sistem work from home ini. Memang ada kelebihan

Akuntansi sebagai mitos

Akuntansi sebagai mitos Akuntansi mungkin dapat dipandang sebagai mitos (mythology) atau ritual simbolis. Akuntansi menciptakan mitos yang merupakan cara mudah memahami dunia ekonomi dan menjelaskan fenomena kompleks. Melalui akuntasi, suatu

ISAK 35 Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nonlaba

Pada September 2018, DSAK IAI telah mengesahkan ISAK 35 “Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi NonLaba” yang telah berlaku per 1 Januari 2020. Sebagai gambaran, sebelumnya telah ada PSAK 45 “Pelaporan