022-2013163

saiauditor@upi.edu

Senin-Jumat 8:00AM–3:30PM

Akuntansi Kreatif

Akuntansi Kreatif (creative accounting) adalah istilah yang biasanya digunakan oleh pers populer untuk mengacu kepada apa yang dianggap oleh jurnalis dilakukan oleh akuntan untuk menjadikan laporan keungan tampak lebih bagus dari yang seharusnya. Kecurigaan ini berlaku di hampir semua negara. Hal ini diakui di Amerika Serikat oleh Schilit, di Inggris oleh Griffiths, di Prancis oleh Stolowy, dan di Australia oleh Revsine, dan Craig dan Walsh. Sebagai akibat dari adanya bukti-bukti internasional atas fenomena ini, akuntansi kreatif telah mendapatkan beragam karakteristik dan definisi. Beberapa penjelasan mengenai akuntansi kreatif disajikan berikut ini:

  1. Akuntansi Kreatif mewakili cara-cara yang digunakan untuk mencapai suatu penyimpangan di antara akun-akun yang bukan berasal dari suatu perkiraan yang memiliki basis atas transaksi-transaksi atas peristiwa-peristiwa yang terjadipada tahun yang sedang ditinjau dan titik mula awalnya.
  2. Akuntansi Kreatif melibatkan adanya manipulasi, penipuan,dan penyajian yangtidak benar.
  3. Akuntansi Kreatif melibatkan penyulapan akuntansi.
  4. Akuntansi Kreatif meliputi aktivitas-aktivitas seperti “memainkan pembukuan ”,”pelaporan kosmetik”, dan window dressing”.
  5. Akuntansi Kreatif adalah “transformasiangka-angka akuntansi keuangan dari arti yang sebenarnya menjadi apa yang diinginkan oleh pembuatnya dengan mengambil keuntungan dari aturan-aturan yang ada dan/ atau mengabaikan beberapa atau seluruh aturan sisanya”. Hal ini melibatkan baik “window dressing” dan pendanaan diluar neraca”. Window dressing diartikan sebagai penyusunanberbagai urusan sehingga laporan keuangan yang dihasilkan akan memberikan kesan yang menyesatkan atau tidak menyajikan dengan benar posisi keuangan perusahaan. Pendanaan diluar neraca (off-balance sheet financing) diartikan sebagai “pendanaan atau pendanaan kembali operasi pendanaan sedemikian rupa sehingga, menurut persyaratan hukum dan konvensi akuntansi yang ada, sebagian ataupun seluruh pendanaan mungkin tidak disajikan di neraca. ”
  6. Akuntansi Kreatif juga direferensikan sebagai penggunaan tipu muslihat akuntansi untuk mendorong pendapatan yang mengalami kelesuan atau meratakan pendapatan yang tidak beraturan. Hal ini dapat diraih dengan pelaksanaan tujuh penggelapan utama yang diuraikan berikut ini:

 

  1. Mencatat pendapatan sebelum dihasilkan
  2. Menciptakan pendapatan fiktif
  3. Mendorong laba melalui transaksi-transaksi yang tidak rutin
  4. Menggeser pengeluaran saat ini ke periode berikutnya
  5. Tidak mencatat atau mengungkapkan kewajiban
  6. Menggeser laba berjalan ke periode di masa depan
  7. Menggeser pengeluaran di masa depan ke periode yang lebih awal

Penggelapan (shenanigans) diuraikan sebagai berikut:

Tidak seperti obsenitas, penggelapan keuangan adalah suatu hal yang mudah untuk didefinisikan namun lebih sulit dalam praktiknya untuk dideteksi.penggelapan keuangan adalah tidakan-tindakan atau penghilangan-penghilangan yang disengaja untuk menutupi atau mendistorsi kinerja keuangan yang sebenarnya atau kondisi keuangan dari suatu entitas. Penggelapan dapat berawal dari kecurangan-kecurangan kecil (seperti tidak dengan jelas memisahkan untung dan rugi operasional maupun non-operasional) sampai kepada kesalahan penerapan yang lebih serius dari prinsip-prinsip akuntansi (seperti tidak menghapuskan aktiva-aktiva yang tidak bernilai juga termasuk perilaku-perilaku yang curang, seperti pencatatan pendapatan fiktif untuk melebih sajikan kinerja keungan yang sebenarnya).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Tantangan Analisis Jabatan Pada Organisasi Pemerintah

Agar setiap orang didalam organisasi dapat memahami tugas dan kewajibannya dengan tepat, maka perlu dirumuskan suatu panduan pekerjaan yang disebut dengan Analisis Jabatan (Anjab). Analisis Jabatan dilakukan dengan tujuan untuk

Batas Waktu Penyetoran dan Pelaporan Pajak

Pada istilah perpajakan, dikenal kalimat System Self Assesment atau Sistem Penilaian Mandiri. Hal ini dimaksudkan dengan adanya sistem tersebut Pemerintah mewajibkan Wajib Pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri pajak

Stimulus Ekonomi untuk Menangani Dampak COVID-19

Sejak merebaknya berita terdapat dua warga di Indonesia yang diketahui positif terjangkit virus corona atau yang sekarang lebih dikenal dengan Covid-19 pada awal maret lalu, pemerintah telah mengambil beberapa langkah