022-2013163

saiauditor@upi.edu

Senin-Jumat 8:00AM–3:30PM

Bukti Audit

Bukti Audit

Bukti audit merupakan hal yang sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi auditor. Auditor harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk mengumpulkan bukti audit yang tepat dan mencukupi dalam setiap audit untuk memenuhi standar profesi.

Sifat Bukti Audit

Bukti audit merupakan setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang diaudit telah dinyatakan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Informasi ini sangat bervariasi sesuai kemampuannya dalam meyakinkan auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Bukti audit mencakup informasi yang sangat persuasif, seperti perhitungan auditor atas sekuritas yang dapat diperjualbelikan, dan informasi yang kurang persuasif, seperti respons atas pertanyaan-pertanyaan dari para karyawan klien. Bukti audit sangat diperlukan guna membantu auditor dalam mengambil keputusan.

Keputusan Bukti Audit

Keputusan penting yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti audit yang tepat, yang diperlukan untuk memastikan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Ada empat keputusan mengenai bukti apa yang harus dikumpulkan dan berapa banyak:

  1. Prosedur audit yang akan digunakan

Prosedur audit adalah rincian instruksi yang menjelaskan bukti audit yang harus diperoleh selama audit.

  1. Berapa ukuran sampel yang akan dipilih untuk prosedur tersebut

Setelah memilih prosedur audit, auditor dapat mengubah ukuran sampel dari hanya satu hingga semua item dalam populasi yang sedang diuji. Keputusan tentang berapa banyak item yang akan diuji harus dibuat oleh auditor pada setiap prosedur audit. Ukuran sampel untuk setiap prosedur mungkin akan berbeda antara satu audit dengan lainnya, tergantung pada karakteristik klien seperti luas pengendalian yang terotomasi dan tingkat assurance yang diperlukan dari prosedur.

  1. Item-item mana yang akan dipilih dari populasi

Setelah menentukan ukuran sampel untuk suatu prosedur audit, auditor harus memutuskan item-item mana dalam populasi yang akan diuji. Sebagai contoh, jika auditor memutuskan memilih 50 cek yang dibatalkan dari populasi sebesar 5.000 untuk dibandingkan dengan jurnal pengeluaran kas, beberapa metode berbeda dapat digunakan untuk memilih cek-cek tertentu yang akan diperiksa. Auditor dapat memilih suatu minggu dan memeriksa 50 cek pertama, memilih 50 cek yang bernilai besar, memilih cek-cek tersebut secara acak, memilih cek-cek yang menurut auditor paling mungkin mengandung kekeliruan, atau dapat menggunakan kombinasi dari berbagai metode tersebut.

  1. Kapan melaksanakan prosedur tersebut

Lamanya audit atas laporan keuangan biasanya mencakup suatu periode seperti satu tahun. Waktu pelaksanaan prosedur audit dapat bervariasi dari awal periode akuntansi hingga berakhirnya periode akuntansi itu. Keputusan penetapan waktu audit, sebagian, dipengaruhi oleh kapan klien menginginkan agar audit itu diselesaikan. Dalam audit atas laporan keuangan, biasanya klien menginginkan agar audit diselesaikan antara satu hingga tiga bulan setelah akhir tahun. Saat ini SEC mengharuskan semua perusahaan publik untuk menyerahkan laporan keuangan yang telah diaudit kepada SEC dalam waktu 60 sampai 90 hari sesudah akhir tahun fiskal perusahaan, tergantung pada ukuran perusahaan itu. Namun demikian, penetapan waktu juga dipengaruhi oleh kapan auditor merasa yakin bukti audit akan paling efektif dan kapan staf audit tersedia.

 

Jenis-jenis bukti audit

Dalam memutuskan prosedur audit mana yang akan digunakan, auditor dapat memilihnya dari delapan kategori bukti yang luas, yang disebut sebagai jenias-jenis bukti. Setiap prosedur audit mendapat satu atau lebih jenis-jenis bukti berikut:

  1. Pemeriksaan fisik

Adalah inspeksi atau perhitungan yang dilakukan auditor atas aktiva atau asset berwujud. Jenis bukti ini paling sering berkaitan dengan persediaan dan kas, tetapi juga dapat diterapkan pada verifikasi sekuritas, wesel tagih, dan aset tetap berwujud.

Pemerikasaan fisik adalah cara langsung untuk memferifikasi apakah suatu aset benar-benar ada dan pada tingkat tertentu apakah aset yang ada itu telah dicatat. Pemerikasaan fisik dianggap sebagai salah satu jenis bukti audit yang paling dapat diandalkan dan berguna. Pada umumnya pemeriksaan fisik adalah cara yang objektif untuk mengetahui kuantitas maupun deskripsi aset tersebut. Dalam beberapa kasus, hal itu juga merupakan metode yang berguna untuk mengevaluasi kondisi atau kualitas aset. Akan tetapi, pemeriksaan fisik bukan merupakan bukti yang mencukupi untuk memverifikasi bahwa aset yang ada memang dimiliki oleh klien , dan dalam banyak kasus, auditor tidak memiliki kualifikasi untuk menilai faktor-faktor kualitatif seperti keuasangan atau otentisitas aset. Selain itu, penilaian yang tepat untuk tujuan laporan keuangan biasanya juga tidak dapat ditentukan oleh pemeriksaan fisik.

  1. Konfirmasi

Menggambarkan penerimaan respons tertulis dari pihak ketiga yang independen yang memverifikasi keakuratan informasi yang diminta oleh auditor. Responsnya bisa dalam bentuk kertas atau elektronik  atau media lainnya, seperti akses langsung auditor ke informasi yang dimiliki pihak ketiga. Permintaan ini ditujukan kepada klien, dank lien meminta pihak ketiga untuk meresponsnya secara langsung kepada auditor. Karena konfirmasi berasal dari sumber pihak ketiga dan bukan dari klien, jenis bukti ini sangat dipercaya dan merupakan jenis bukti yang sering digunakan. Namun, konfirmasi relatif mahal dan dapat menimbulkan beberapa ketidaknyamanan bagi pihak-pihak yang diminta untuk menyediakan konfirmasi tersebut. Karena itu, konfirmasi tidak digunakan dalam setiap contoh meskipun bukti ini dapat digunakan.

Walaupun konfirmasi tidak diwajibkan untuk setiap akun selain piutang usaha, jenis bukti audit ini sangat berguna dalam memverifikasi berbagai jenis informasi.

Agar dapat dikategorikan sebagai bukti yang andal, konfirmasi harus dikendalikan oleh auditor sejak konfirmasi tersebut disiapkan hingga dikembalikan. Jika klien yang mengendalikan penyiapan informasi, mengirimkannya, atau menerima respons, auditor telah kehilangan kendali dan independensinya, sehingga mengurangi reabilitas bukti itu. Auditor sering kali berupaya memvalidasi identitas responden konfirmasi, terutama untuk respons via faksimili atau konfirmasi elektronik.

  1. Inspeksi

Adalah pemerikasaan oleh auditor atas dokumen dan catatan klien untuk mendukung informasi yang tersaji, atau seharusnya tersaji dalam laporan keuangan. Dokumen yang diperiksa oleh auditor adalah catatan yang digunakan klien untuk menyediakan informasi bagi pelaksanaan bisnis dengan cara yang terorganisasi, yang bisa juga dalam bentuk kertas, bentuk elektronik, atau media lain. Karena setiap transaksi dalam organisasi klien biasanya didukung paling tidak oleh selembar dokumen, jenis bukti audit ini tersedia dalam jumlah besar. Dokumentasi telah digunakan secara luas sebagai bukti audit karena jenis bukti ini biasanya tersedia dengan biaya yang relatif rendah.

  1. Prosedur Analitis

Terdiri dari evaluasi informasi keuangan melalui analisis atas hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan nonkeuagan. Sebagai contoh, auditor dapat membandingkan presentase marjin kotor tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Prosedur analitis telah digunakan secara luas dalam praktik, dan dibutuhkan selama fase perencanaan dan penyelesaian pada semua audit.

Tujuan prosedur analitis:

a. Memahami Industri dan Bisnis Klien

Auditor harus memperoleh pengetahuan tentang industri dan bisnis klien sebagai bagian dari perencanaan audit. Dengan melakukan prosedur analitis di mana informasi tahun berjalan yang belum diaudit dibandingkan dengan informasi tahun sebelumnya yang sudah diaudit atau data industri, perubahannya akan disoroti.

b. Menilai Kemampuan Entitas untuk Terus Going Concern

Prosedur analitis sering kali menjadi indikator yang berguna untuk menentukan apakah perusahaan klien memiliki masalah keuangan. Prosedur analitis tertentu dapat membantu auditor dalam menilai kemungkinan terjadinya kegagalan bisnis.

c. Menunjukkan Adanya Kemungkinan Salah Saji dalam Laporan Keuangan

Perbedaan signifikan yang tidak diharapkan antara data keuangan tahun berjalan yang belum diaudit dan data lainnya yang digunakan dalam perbandingan bisanya disebut fluktuasi tidak biasa. Keberadaan salah saji akuntansi adalah satu alasan yang mungkin terjadi bagi terjadinya fluktuasi tidak biasa. Jika fluktuasi tidak biasa cukup besar, auditor harus menentukan alasannya dan yakin bahwa penyebabnya adalah peristiwa ekonomi yang sah, dan bukan salah saji.

d. Mengurangi Pengujian Audit yang Terinci

Apabila prosedur analitis tidak mengungkapkan fluktuasi tidak biasa, ini menandakan bahwa salah saji yang material mungkin telah diminimalkan. Dalam kasus ini, pengujian terinci bisa lebih sedikit dilakukan pada akun-akun terkait. Dalam kasus lain, prosedur audit tertentu dapat dihilangkan, ukuran sampel bisa dikurangi, atau penetapan waktu prosedur bisa digeser lebih jauh dari tanggal neraca.

  1. Wawancara dengan Klien

Adalah upaya untuk memperoleh informasi secara lisan maupun tertulis dari klien sebagai respons atas pertanyaan yang diajukan auditor. Walaupun banyak bukti yang dapat diperoleh dari klien melalui tanya-jawab ini, bukti itu biasanya tidak dapat dianggap sebagai bukti yang meyakinkan karena bukan dari sumber yang independen dan mungkin mendukung pihak klien. Karena itu, apabila auditor memperoleh bukti melalui tanya-jawab, biasanya auditor juga perlu memperoleh bukti pendukung melalui prosedur lainnya. Bukti pendukung adalah bukti tambahan untuk mendukung bukti awal atau asli.

  1. Rekalkulasi

Melibatkan pengecekan ulang atas sampel kalkulasi yang dilakukan oleh klien. Pengecekan ulang kalkulasi klien ini terdiri dari pengujian atas keakuratan perhitungan klien dan mencakup prosedur seperti perkalian faktur penjualan dan persediaan, penjumlahan jurnal dan buku tambahan, serta pengecekan kalkulasi beban penyusutan dan beban dibayar di muka. Sebagian besar rekalkulasi auditor dilakukan oleh perangkat lunak audit dengan bantuan komputer.

  1. Pelaksanaan Ulang

Adalah pengujian independen yang dilakukan auditor atas prosedur atau pengendalian akuntansi klien, yang semula dilakukan sebagai bagian dari sistem akuntansi dan pengendalian internal klien. Jika rekalkulasi melibatkan pengecekan ulang atas suatu perhitungan, pelaksanaan ulang melibatkan pengecekan atas prosedur lain.

  1. Observasi

Observasi terdiri dari mengamati proses atau prosedur yang sedang dilaksanakan oleh pihak lain. Auditor dapat mengunjungi lokasi pabrik untuk memperoleh kesan umum atas fasilitas klien, atau mengamati para individu yang melaksanakan tugas-tugas akuntansi untuk menentukan apakah orang yang diserahi tanggung jawab telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Observasi memberikan bukti tentang pelaksanaan proses atau prosedur tetapi terbatas pada poin-poin ketika observasi dilakukan. Observasi kurang dapat diandalkan karena risiko personil klien akan mengubah perilakuknya akibat kehadiran auditor. Karena itu, perlu untuk menindaklanjuti kesan pertama yang diperoleh dengan jenis bukti pendukung lainnya. Namun demikian, observasi berguna dalam pelaksanaan sebagian besar audit.

 

Sumber: Auditing & Jasa Assurance. Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasley. Penerbit Erlangga

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Penelaahan dan Tanggapan Laporan Audit

Penelaahan Laporan Siapa yang Menelaah Draft Laporan Ada empat jenis penelaahan laporan audit yang dapat dilakukan. Tiap penelaahan memiliki tujuan spesifik dan karakter uniknya masing-masing. Empat jenis penelaahan tersebut adalah

Proses Investigatif Untuk Menelusuri Kecurangan

Beberapa kecurangan dapat diselesaikan dengan hanya mengidentifikasi hal-hal yang tidak konsisten dan menanyakannya kepada seorang yang langsung mengakuinya. Sedangkan yang lainnya melaui proses yang rumit dan tersembunyi. Kecurangan seperti ini

Apa itu Fraud? Apa Penyebab dan Bagaimana Pencegahannya?

Fraud! Di dalam akuntansi terdapat dua jenis kesalahan yaitu kekeliruan atau error dan kecurangan atau fraud. Secara harfiah fraud dapat kita artikan sebagai kecurangan. Kecurangan ini merupakan tindakan curang yang dilakukan